MBG Prasmanan di Sekolah: Apakah Lebih Efektif? Ini Hasil Uji Coba BGN
- account_circle Firmansyah
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 19
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kebaruan. Belum ada yang bisa memastikan. Badan Gizi Nasional baru memulai uji coba MBG prasmanan pada Senin, 5 Oktober 2026, dan belum merilis hasil evaluasinya. Uji coba berjalan di lebih dari 60 SPPG (dapur MBG). BGN mengklaim sistem ini membuat makanan lebih hangat dan sisa lebih sedikit. Klaim itu perlu bukti data, dan sampai sekarang belum ada angka yang bisa kita periksa.
Apa Itu MBG Prasmanan?
Dengan sistem lama, dapur memorsi makanan ke dalam ompreng per siswa. Dengan prasmanan, dapur SPPG memasak menu, membawanya ke sekolah dalam kondisi hangat, lalu menyajikannya langsung di kelas. Setelah itu, siswa mengambil porsinya sendiri. Slogannya “Ambil Secukupnya, Habiskan Semuanya”.
Gagasan ini meniru Jepang. Kepala BGN Sudaryono menyebut model ini mengikuti sistem penyediaan makan sekolah di Jepang. Siswa bergiliran piket melayani teman sekelas dengan celemek dan sarung tangan. Menurut CNN Indonesia, BGN belajar bersama JICA, dan sekolah dengan jumlah siswa besar bahkan boleh memasak langsung di lingkungan sekolah.
Klaim Kelebihan MBG Prasmanan Menurut BGN
BGN menyebut tiga manfaat utama:
- Makanan lebih hangat dan segar. Uji coba ingin melihat apakah model ini menjaga kualitas makanan dan memperpendek jeda antara memasak dan makan.
- Sisa makanan lebih sedikit. Sudaryono mengatakan sisa makanan lebih sedikit karena siswa mengambil sendiri.
- Pemorsian lebih ringan. Dapur tidak perlu memorsi satu per satu, dan siswa bisa mengambil sesuai kebutuhan.
Selain itu, langkah ini menjawab masalah di lapangan. Liputan6 mencatat uji coba ini juga merespons makanan basi atau rusak akibat jeda pengiriman di beberapa daerah. Pada 2 Oktober, BGN juga membatasi cakupan penerima maksimal 3.000 orang per SPPG dan menyiapkan skema prasmanan untuk mencegah keracunan makanan.
Tantangan MBG Prasmanan di Sekolah
Sudaryono sendiri mengakui pembiasaan itu penting. Ia menyebut sistem ini bagus jika sudah terbiasa, seperti di negara lain. Karena itu, ada beberapa syarat. Pihak sekolah dan siswa membutuhkan pelatihan lebih dulu. Sekolah juga mendapat peran tambahan dalam proses penyajian.
Di sisi lain, ada hal yang belum terjawab. Bagian ini analisis saya, bukan pernyataan resmi:
- Kebersihan penyajian. Makanan terbuka di kelas dan banyak tangan terlibat. Standar kebersihan harus jelas.
- Pemerataan porsi. Siswa yang mengambil lebih banyak bisa membuat teman di belakang kehabisan. Pengawasan guru menjadi penting.
- Beban sekolah. Guru dan siswa piket mengurus tambahan tugas di jam belajar.
Sampai uji coba selesai, hal-hal itu belum teruji di lapangan.
Seberapa cepat prasmanan berlaku di semua sekolah?
Belum ada keputusan. BGN belum menjadikan prasmanan sebagai pola yang langsung berlaku di seluruh sekolah penerima. Hasil evaluasi akan menentukan perluasan, dengan mempertimbangkan kesiapan dapur, sekolah, sumber daya manusia, dan karakter penerima manfaat tiap daerah.
Jadi, jawaban untuk “apakah lebih efektif” adalah: berpotensi, tetapi belum terbukti. Tunggu data resmi dari BGN, misalnya tingkat sisa makanan dan insiden keamanan pangan di sekolah uji coba.
- Penulis: Firmansyah
