Airlangga Hartarto Pacu Ekspor dari Semua Sektor, Ini Strateginya
- account_circle Firmansyah
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 45
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kebaruan. Pemerintah bersiap tancap gas di sisi ekspor. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan ekspor akan dipacu dari seluruh sektor, termasuk manufaktur. Ia menyampaikannya Senin malam (19/10/2026) usai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana. Pembahasan itu muncul di tengah ketidakpastian global dan upaya menjaga pertumbuhan ekonomi hingga akhir 2026.
Apa yang Airlangga Hartarto sampaikan
Menurut Airlangga, rapat dengan presiden membahas angka-angka makro, lalu berlanjut ke cara meningkatkan ekspor. Pemerintah menargetkan semua sektor, tidak hanya komoditas. Untuk itu, pemerintah akan membereskan hambatan yang menekan ekspor lewat jalur debottlenecking.
Satuan tugas khusus menjadi ujung tombaknya. Presiden sudah menugaskan Satgas Percepatan Program Pemerintah untuk Mendukung Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi (Satgas P3M-PPE). Satgas itu menyelesaikan kendala yang dihadapi pelaku usaha saat mengirim barang ke luar negeri.
Angka ekspor Januari sampai Agustus
Data resmi memberi dasar optimisme. Nilai ekspor Januari sampai Agustus 2026 mencapai US$193,64 miliar, naik 4,74%. Neraca perdagangan mencatat surplus US$7,25 miliar, sebagian besar dari sektor nonmigas.
Pada Agustus, ekspor nonmigas tumbuh 7,23% menjadi US$25,62 miliar. Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai kinerja perdagangan terus tumbuh positif meski tantangan global besar.
Export gap: peluang di pasar yang sudah ada
Sehari sebelumnya, Airlangga memaparkan hasil pemetaan export gap, yaitu selisih antara nilai ekspor sekarang dan potensi maksimalnya. Pasar ekspor utama Indonesia terkonsentrasi di China, Amerika Serikat, Jepang, dan India.
Peluang terbesar ada di China dengan selisih US$31 miliar, terutama pada mineral dan logam, mesin dan elektronik, kayu, kertas, karet, plastik, serta kimia. Di Amerika Serikat, potensi selisihnya US$14 miliar, termasuk kendaraan. India menawarkan US$10 miliar, sedangkan Jepang US$5,5 miliar dengan peluang pada produk hasil laut dan nabati.
Airlangga menekankan satu hal. Peningkatan ekspor tidak harus lewat pasar baru, tetapi juga lewat pendalaman pasar yang sudah menjadi tujuan.
CEPA sebagai pintu pasar
Selain mendalami pasar lama, pemerintah mendorong perjanjian dagang. IDXChannel melaporkan Airlangga menyoroti percepatan implementasi tiga CEPA. Pemerintah juga mengebut IEU-CEPA dengan Uni Eropa, yang ditargetkan berlaku efektif awal 2027.
Perjanjian semacam itu biasanya menurunkan tarif bea masuk bagi produk Indonesia. Karena itu, pelaku manufaktur dan UMKM berharap bisa menembus pasar baru dengan biaya lebih ringan.
Tantangan yang menunggu
Rencana besar butuh eksekusi. Airlangga sendiri menyoroti industri elektronik yang bergeser ke Malaysia dan Vietnam, yang menurutnya membuat Indonesia tertinggal. Hambatan di lapangan, mulai dari logistik sampai perizinan, juga belum seluruhnya terurai.
Perkembangan berikutnya patut dipantau: hasil kerja Satgas, progres IEU-CEPA, dan data ekspor September yang akan dirilis BPS.
- Penulis: Firmansyah
