Jumlah Dapur MBG di BGN: 27.022 SPPG, 26.385 Operasional
- account_circle Firmansyah
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kebaruan. Berapa jumlah dapur MBG yang tercatat di Badan Gizi Nasional (BGN)? Per Oktober 2026, BGN menetapkan 27.022 satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) sebagai pelaksana, dan 26.385 di antaranya memenuhi kriteria operasional. Namun, angka itu mudah tertukar dengan jumlah dapur yang terdaftar, yang lebih besar. Berikut cara membaca ketiganya.
Tiga angka dapur MBG yang berbeda
Pertama, jumlah SPPG terdaftar. Kepala BGN Sudaryono menyebut 27.485 SPPG masuk pendataan hingga akhir Agustus. Daftar itu mencakup dapur yang sudah beroperasi maupun yang belum.
Kedua, jumlah SPPG pelaksana. Dari 27.485 dapur tadi, BGN menetapkan 27.022 unit sebagai pelaksana MBG. Menko Pangan Zulkifli Hasan memakai angka ini sebagai total dapur per awal Oktober.
Ketiga, jumlah SPPG operasional. Zulkifli mengungkap 26.385 SPPG lulus kriteria, atau 97,6% dari 27.022 dapur. Dapur itu wajib punya Sertifikat Laik Higiene Sanitasi, tidak sedang disuspend, tidak punya catatan kejadian fatal, dan melayani lebih dari 1.000 penerima manfaat.
Dari 17 ribu ke 27 ribu dapur
Jumlah dapur melonjak dalam waktu singkat. Pada 15 Desember 2025, BGN mencatat 17.555 SPPG yang melayani sekitar 50,39 juta penerima di 38 provinsi. Awal tahun ini, angkanya naik ke 20.419 unit. Pada pertengahan 2026, Zulkifli menyebut 27.877 titik tercatat, jauh di atas target awal pemerintah sebesar 21.000 dapur.
Zulkifli mengakui penyebab pembengkakan itu antara lain praktik jual-beli titik dapur. Di wilayah 3T, jumlah titik juga membengkak menjadi 8.617 dari target awal sekitar 2.000.
Penertiban setelah lonjakan
BGN lalu menertibkan data. Sudaryono mengatakan verifikasi memastikan semua dapur yang tercatat benar-benar punya data dan fasilitas yang sesuai. Hasilnya, BGN menyuspensi 463 dapur dan mencoret permanen tujuh SPPG, sebagian karena sudah lama berhenti beroperasi atau lokasinya tidak ditemukan.
Angkanya turun dari 27.877 ke 27.485 terdaftar, lalu 27.022 pelaksana dan 26.385 operasional. Penurunan itu menunjukkan angka “dapur MBG” bukan hitungan satu kali, tetapi hasil penyaringan bertahap.
Aktivasi dapur wilayah 3T pada Oktober
Sementara itu, BGN memperluas layanan ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar. Pada 2 Oktober, BGN mengaktifkan 480 SPPG di 16 provinsi Indonesia Timur, terdiri dari 211 SPPG mitra mandiri dan 269 SPPG terpencil. Pada 14 Oktober, BGN meresmikan 980 SPPG lagi di 16 provinsi, dengan 691 dapur di Sumatera dan 289 di Kalimantan dan Bali.
Beberapa media menulis BGN “mengaktifkan kembali” dapur di wilayah ini. Karena itu, tambahan 480 dan 980 dapur belum tentu menambah total secara penuh. Sebagian mungkin sudah masuk hitungan terdaftar sebelumnya.
Di daerah, jumlahnya terlihat konkret. Riau, misalnya, mencatat 683 dapur beroperasi per 14 Oktober, dengan 87 dapur baru dan 13 SPPG yang masih disuspend.
Anggaran dan arah pengawasan
Pemerintah menetapkan pagu MBG 2026 sebesar Rp218,77 triliun. Mulai Oktober, BGN menghitung anggaran Rp15.000 per porsi. Pemerintah juga memberi insentif Rp2.000 per porsi bagi SPPG sesuai jumlah penerima yang dilayani.
Zulkifli menyebut empat langkah pembenahan: pemerataan layanan ke wilayah 3T, tata kelola dapur, keamanan dan mutu gizi, serta pemberantasan penyimpangan data. BGN juga menguji CCTV berbasis AI di 70 dapur untuk memantau prosedur pengolahan.
Cara membaca angka ini
Saat membaca berita, periksa dulu definisinya: terdaftar, pelaksana, atau operasional. Perhatikan juga tanggalnya, karena BGN terus memperbarui data. Untuk jumlah terbaru, cek rilis resmi BGN atau Kemenko Pangan.
- Penulis: Firmansyah
