Tanah Karhutla Sulit Padam: Bara Gambut, Bukan Batu Bara?
- account_circle Firmansyah
- calendar_month 20 jam yang lalu
- visibility 73
- comment 0 komentar
- print Cetak

Penyemprotan Kebakaran karhutla
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kebaruan. Penyebab utamanya gambut, bukan batu bara. Tanah karhutla di Kalimantan dan Sumatra banyak berupa gambut, yaitu lapisan tanah organik yang bisa menyimpan bara di bawah permukaan. Karena itu, api yang tampak padam di atas sering masih menyala di bawah. Memang ada kasus batu bara yang ikut terbakar di bawah tanah, tetapi itu pengecualian, bukan penyebab umum.
Kenapa Api di Tanah Gambut Sulit Padam?
Gambut terbentuk dari penumpukan bahan organik. Saat kebakaran, api tidak hanya membakar lapisan permukaan, tetapi juga merambat ke lapisan gambut di bawah tanah. Hasilnya, meski api di permukaan tampak sudah padam, bara masih bisa tersisa di lapisan bawah tanpa terdeteksi.
Seorang pakar tanah menyebut pengeringan berlebihan sebagai biang masalah. Lapisan atas gambut yang mengering mudah terbakar, sementara lapisan bawah yang tak terbasahi ikut terbakar seperti bara dalam sekam. Dengan kata lain, bara di dalam sekam mirip dengan itu: tampak tenang, tetapi tetap panas.
Pakar IPB University menambahkan hal serupa. Menurutnya, kesulitan pemadaman di Kalimantan berkaitan erat dengan lahan gambut yang mudah mengering dan menyimpan bara di bawah permukaan. Selain itu, bara itu bisa memicu kebakaran kembali bila hujan belum turun dan gambut masih kering.
Benarkah ada batu bara di bawah tanah Karhutla?
Jawabannya: bisa, tetapi tidak di semua tempat. Gambut dan batu bara memang punya hubungan. Menurut pengurus pusat Himpunan Ilmu Tanah Indonesia, jika penumpukan bahan organik berlangsung jutaan tahun, ia berpotensi membatu menjadi fosil serupa batu bara. Jadi, gambut bukan batu bara, tetapi keduanya berasal dari bahan organik yang sama.
Kasus Tarakan memperlihatkan sisi lain. Satu ulasan lingkungan menyebut bahwa dalam kondisi tertentu bara bergerak di bawah tanah dan membakar lapisan gambut hingga mencapai batu bara. Aktivitas pembukaan lahan dan pertambangan dapat membuka jalan bagi api menuju lapisan bawah tanah. Karena itu, kebakaran semacam ini bisa membentuk rongga dan membuat tanah ambles. Namun, kasus ini bersifat lokal.
Ada pula kebakaran yang sering salah dicap karhutla. Di Muaro Jambi, misalnya, tumpukan batu bara milik perusahaan terbakar dan terpantau sebagai titik panas. Petugas lalu menyatakan bahwa itu bukan kebakaran hutan dan lahan, sehingga hotspot itu akan ditandai terpisah.
Kenapa Menyiram Permukaan Tidak Cukup?
Air dari selang hanya membasahi permukaan. Padahal, bara berada lebih dalam. Aktivis lingkungan di Kalimantan Barat menjelaskan: saat lahan mineral terbakar, api yang tersiram air di permukaan hilang. Di gambut, api tidak terlihat di permukaan dan menjalar ke bawah. Karena itu, petugas memakai metode suntik gambut, yakni menyuntikkan air bertekanan tinggi ke dalam tanah untuk mendinginkan sumber api di lapisan terdalam.
Kendala lain muncul di lapangan. Menurut pakar IPB, keterbatasan air dan sistem peringatan dini yang belum optimal ikut menyulitkan pemadaman. Pekan ini, petugas di Barito Selatan memadamkan api selama tiga hari, dari Kamis (8/10) sampai Sabtu (10/10), dengan cairan X-Fire karena lahan kering dan gambutnya padat. Setelah itu, mereka melanjutkan pendinginan supaya bara tak kembali menyala.
Mencegah Lebih Ampuh daripada Memadamkan
Pakar IPB menekankan satu hal: pengendalian karhutla tak boleh hanya fokus memadamkan setelah api muncul. Dengan menjaga gambut tetap basah, bahan bakar alami di dalamnya menjadi lebih sulit terbakar. Saat muka air tanah turun, risiko terbakar naik. Dengan demikian, pembasahan dan penyekatan kanal justru bekerja sebelum musim kemarau.
Skala masalahnya besar. Di Kalimantan Barat saja, BNPB mencatat lahan terbakar sejak Januari hingga Agustus 2026 mencapai 38.310,89 hektare.
- Penulis: Firmansyah
