Kebaruan.com Bumi memang nggak pernah benar-benar diam. Sepanjang 2026, tercatat sudah 11 kali gempa magnitudo 7+ mengguncang berbagai penjuru dunia, dari Amerika Latin sampai kawasan Pasifik. Beberapa di antaranya bahkan terjadi di wilayah Indonesia sendiri.
Rentetan Gempa Besar dari Awal Tahun
Catatan Kompas.com menunjukkan gempa magnitudo 7+ pertama tahun ini terjadi di Kota Belud, Malaysia, pada 23 Februari 2026 dengan kekuatan M7,1. Sebulan berselang, giliran Neiafu di Tonga bergetar hebat akibat gempa M7,5 pada 24 Maret. Hanya berselang enam hari, Luganville di Vanuatu ikut terguncang gempa M7,3 pada 30 Maret.
Memasuki bulan April, dua gempa besar terjadi berdekatan. Bitung, Sulawesi Utara, mencatat gempa M7,4 pada 2 April, menjadikannya salah satu titik gempa magnitudo 7+ pertama di Indonesia tahun ini. Tak lama setelahnya, Miyako di Jepang turut diguncang gempa M7,4 pada 20 April.
Juni Jadi Bulan Paling Aktif
Juni 2026 tercatat sebagai bulan tersibuk soal aktivitas seismik. Kablalan di Filipina lebih dulu bergetar lewat gempa M7,8 pada 8 Juni, angka kekuatan tertinggi dalam daftar ini. Selang dua pekan kemudian, Venezuela justru kebagian dua guncangan sekaligus pada tanggal yang sama. Catia La Mar mencatat gempa M7,5, sementara San Felipe menyusul dengan kekuatan M7,2, keduanya terjadi pada 24 Juni.
Aktivitas seismik tak lantas mereda begitu Juni berlalu. Puerto Madero di Meksiko kembali bergetar lewat gempa M7,3 pada 17 Juli.
Dua Gempa Susulan di Penghujung Musim
Memasuki Agustus, giliran San Jose del Palmar di Kolombia yang bergetar oleh gempa M7,4 pada 10 Agustus. Sepekan setelahnya, Nageeko di Indonesia mencatat gempa magnitudo 7+ paling kuat kedua sepanjang tahun ini, yakni M7,7 pada 15 Agustus.
Dengan dua kejadian di Bitung dan Nageeko, Indonesia jadi salah satu negara yang paling sering merasakan guncangan besar sepanjang 2026. Wajar saja, mengingat posisi geografis Indonesia yang berada tepat di jalur Cincin Api Pasifik alias Ring of Fire, kawasan dengan aktivitas tektonik paling aktif di dunia.
Melihat rentetan kejadian ini, kewaspadaan terhadap potensi gempa susulan maupun ancaman tsunami tetap perlu dijaga, khususnya bagi warga yang tinggal di daerah pesisir dan jalur patahan aktif.
