Kebaruan.com Setiap aksi turun ke jalan butuh biaya. Spanduk, mobil komando, konsumsi, dan pengeras suara semua perlu dana. Pertanyaan soal dana demo mahasiswa selalu muncul begitu massa yang turun jumlahnya besar. Publik ingin tahu siapa membiayai aksi sebesar itu.
Urunan Mahasiswa, Sumber Paling Umum
Peneliti Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), Siska Barimbing, menjelaskan bahwa aliansi atau organisasi penyelenggara aksi biasanya menggalang dana sendiri lewat urunan anggota. BEM, himpunan jurusan, dan aliansi lintas kampus memakai pola ini paling sering. Anggota menyetor kas. Pengurus membelanjakannya untuk kebutuhan lapangan: spanduk, sewa kendaraan, air minum.
Siska menegaskan satu hal penting. Dana demonstrasi tidak pernah lewat APBN atau APBD. Klaim negara membiayai aksi menolak kebijakannya sendiri sejauh ini tidak berdasar.
Sumbangan Simpatisan dan Masyarakat
Banyak aksi besar mengandalkan sumbangan sukarela dari warga yang sepaham dengan tuntutan aksi. Bentuknya beragam: uang tunai, konsumsi, obat-obatan, layanan medis darurat di lokasi. Warga sekitar lokasi aksi menolak revisi UU Minerba dan RUU TNI ikut menyediakan logistik tanpa diminta.
Satu organisasi mahasiswa lintas kampus swasta di Jakarta pernah mengaku ke media bahwa sumbangan sesama mahasiswa jumlahnya kecil. Dana besar justru datang dari luar kampus. Kelompok tertentu memanfaatkan celah ini untuk menumpang gerakan mahasiswa demi kepentingan lain.
Saat Dana Demo Mahasiswa Dipakai Membelokkan Aksi
Titik paling sensitif dari soal dana demo mahasiswa muncul ketika oknum memakai uang bukan untuk membantu, tapi mengarahkan aksi. Kasus di Universitas Bung Karno pertengahan 2026 membuktikan hal ini. Ketua BEM Fakultas Hukum kampus tersebut mengaku menerima Rp20 juta dari oknum aparat lewat perantara alumni. Syaratnya jelas: memindahkan titik demonstrasi dari Istana Merdeka ke Gedung DPR/MPR.
Pengakuan itu memicu polemik besar. Sejumlah anggota DPR mendesak pihak terkait membuka aliran dananya secara terbuka. Rektorat membentuk tim investigasi. Rektorat menonaktifkan status kemahasiswaan pengurus BEM yang terlibat. Kasus ini memberi satu pelajaran sederhana: dana tanpa transparansi gampang membelokkan arah perjuangan mahasiswa.
Kenapa Transparansi Dana Aksi Penting
Ketidakterbukaan soal sumber dana memicu kecurigaan yang merusak kredibilitas gerakan itu sendiri. Publik makin percaya pada aksi begitu tahu dananya murni dari kas mahasiswa dan sumbangan simpatisan. Indikasi dana dari partai politik atau oknum aparat langsung menggeser fokus publik. Tuntutan aksi tenggelam. Orang lebih sibuk mencari dalang di baliknya.
Banyak akademisi dan pengamat kebijakan mendorong aliansi mahasiswa membiasakan laporan keuangan sederhana usai aksi besar. Langkah ini bukan untuk membatasi kebebasan berpendapat. Langkah ini melindungi gerakan dari tudingan bahwa pihak tertentu menunggangi aksi.
Kesimpulan
Sumber dana demo mahasiswa memang beragam: kas organisasi, sumbangan sukarela masyarakat, dan dalam kasus tertentu, uang dari pihak luar berkepentingan tersembunyi. Pembeda aksi murni dengan aksi yang gampang pihak lain tunggangi cuma satu: keterbukaan soal asal uang dan penggunaannya.
