Saham HSC Keluar dari IHSG: Apa Dampaknya bagi Investor?
- account_circle Firmansyah
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kebaruan. Saham HSC tidak dikeluarkan dari bursa, melainkan dari perhitungan IHSG. Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan langkah itu pada Senin (19/10/2026), setelah pertemuan daring dengan MSCI. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menegaskan bahwa kebijakan ini bukan delisting. Investor tetap bisa membeli dan menjual saham HSC seperti biasa. Namun, harganya tidak lagi menggerakkan indeks acuan.
Apa itu saham HSC?
HSC adalah singkatan dari High Shareholding Concentration. Kategori ini mencakup emiten yang kepemilikannya terpusat pada segelintir pemegang saham. Akibatnya, porsi saham yang beredar di publik (free float) kecil. Harga saham seperti itu lebih mudah bergerak karena sedikit pelaku pasar.
BEI mulai mengumumkan daftar HSC pada 2 April 2026. Hingga pertengahan Oktober, daftar itu memuat 80 saham, termasuk BREN, DCII, SILO, MTEL, BYAN, GEMS, BELI, dan BTPN.
Dampak langsung bagi pemegang saham
Pertama, status pencatatan tidak berubah. Pemilik saham HSC tetap memegang kepemilikannya, dan perdagangan berjalan normal. Kedua, pergerakan harga saham HSC tidak lagi memengaruhi IHSG. Ketiga, saham yang keluar dari daftar HSC akan masuk lagi ke perhitungan indeks. Karena itu, pemilik punya insentif untuk membuka porsi publik. BEI juga memastikan tidak ada sanksi tambahan bagi emiten HSC.
Selain itu, BEI sudah lebih dulu mengeluarkan saham HSC dari IDX30, LQ45, dan IDX80. Langkah terbaru memperluasnya ke IHSG.
Dampak ke IHSG
Saham HSC punya bobot sekitar 18% terhadap IHSG menurut BEI. Liputan6 mencatat 80 saham itu mencakup 28,78% dari total kapitalisasi pasar pada 16 Oktober. Dengan bobot sebesar itu, keputusan BEI berpotensi mengubah wajah indeks.
Samuel Sekuritas menghitung simulasi. Jika saham HSC keluar, IHSG bisa naik 18,6% dari 4.996,60 menjadi 5.925, karena saham HSC termasuk yang jatuh paling dalam. Angka itu hanya simulasi, bukan hasil aktual. BEI juga belum mengumumkan tanggal efektifnya.
Analis Phintraco menilai langkah ini membuat IHSG lebih mencerminkan kondisi pasar dan likuiditas yang representatif. Meski begitu, tekanan jual masih berlangsung, dan support terdekat berada di 4.800-4.900.
Risiko yang tetap ada
Pengamat pasar modal Hendra Wardana mengingatkan bahwa saham HSC masih diperdagangkan. Karena itu, risiko perdagangan terkoordinasi belum hilang. Selain itu, likuiditas saham HSC bisa turun jika investor menjauhi saham yang tidak masuk indeks.
Tidak ada jaminan MSCI merespons positif. Phintraco menyebut kebijakan ini hanya mendukung pemenuhan standar MSCI. BEI juga belum membuka detail pertemuan tersebut.
Reformasi lain dari BEI
BEI menambah satu kebijakan. Mulai sekarang, publikasi pemegang saham dengan kepemilikan 1% atau lebih akan memuat keterangan afiliasi atau nonafiliasi. Bursa juga sudah menghapus harga minimum saham Rp50.
Semua ini muncul setelah IHSG anjlok dalam sepekan akibat usulan MSCI menurunkan klasifikasi pasar Indonesia. Untuk investor, informasi ini bersifat umum dan bukan rekomendasi beli atau jual.
- Penulis: Firmansyah

