Kisah Nabi Sulaiman AS Raja yang Paham Bahasa Semut dan Burung
- account_circle Firmansyah
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kebaruan. Nabi Sulaiman ‘alaihissalam (AS) adalah nabi sekaligus raja yang Allah beri kerajaan tiada banding: angin, jin, dan burung tunduk kepadanya. Ia putra Nabi Daud AS, dan Al-Qur’an menegaskan bahwa Sulaiman mewarisi Daud (QS An-Naml: 16). Namun, kisahnya bukan tentang kekuasaan semata. Kisah ini menonjolkan rasa syukur dan kerendahan hati seorang raja.
Kerajaan yang Tak Pernah Ada Duanya
Allah mengajarkan Sulaiman bahasa burung dan memberinya segala sesuatu (QS An-Naml: 16). Angin bertiup mengikuti perintahnya (QS Saba: 12). Jin juga bekerja untuknya, membuat bangunan, patung, piring besar, dan kuali (QS Saba: 12-13). Sulaiman bahkan berdoa meminta kerajaan yang tidak akan dimiliki siapa pun sesudahnya (QS Shad: 35).
Bahasa Semut di Lembah
Suatu hari, pasukan Sulaiman yang terdiri dari jin, manusia, dan burung melewati lembah semut. Seekor semut memperingatkan kawanannya agar masuk sarang supaya tidak terinjak. Sulaiman tersenyum dan tertawa mendengar peringatan itu. Lalu ia berdoa agar Allah memberinya kemampuan terus bersyukur (QS An-Naml: 17-19).
Hud-hud dan Ratu Saba
Saat memeriksa pasukan, Sulaiman tidak melihat burung Hud-hud. Ia mengancam menghukumnya, kecuali jika punya alasan jelas. Tak lama, Hud-hud datang membawa kabar dari negeri Saba. Seorang perempuan memerintah di sana, dan kaumnya menyembah matahari (QS An-Naml: 20-26). Ratu itu bernama Balqis menurut riwayat tafsir, sedangkan Al-Qur’an hanya menyebutnya “seorang perempuan”.
Nabi Sulaiman tidak langsung percaya. Ia menguji kejujuran Hud-hud dengan menitipkan sepucuk surat. Ratu Saba membacanya lalu bermusyawarah dengan para pembesarnya, dan memilih mengirim hadiah (QS An-Naml: 27-35).
Singgasana yang Pindah Sekejap
Sulaiman menolak hadiah itu. Ia lalu menantang para pembantunya memindahkan singgasana sang ratu. Seorang jin Ifrit menyanggupi sebelum Sulaiman berdiri dari tempatnya. Namun, seorang yang memiliki ilmu dari Al-Kitab menyatakan sanggup melakukannya sebelum mata Sulaiman berkedip. Singgasana itu pun tiba di hadapannya (QS An-Naml: 38-40).
Nabi Sulaiman tidak menyombongkan diri. Ia mengatakan itu karunia Tuhannya untuk menguji rasa syukurnya. Ketika Balqis datang, ia diajak masuk ke istana berlantai kaca. Balqis menyingkap kainnya karena mengira lantai itu air. Setelah menyadari kebenaran, ia berserah diri kepada Allah (QS An-Naml: 44).
Ujian dan Wafatnya Sulaiman
Al-Qur’an juga mencatat ujian kepada Sulaiman. Ia terlalu larut memandangi kuda-kuda pilihan sampai lalai, lalu ia bertobat (QS Shad: 31-34). Ulama tafsir berbeda pendapat tentang detail peristiwa ini.
Saat wafat, Sulaiman bersandar pada tongkatnya, dan jin tidak menyadarinya. Mereka tetap bekerja sampai rayap memakan tongkat itu dan jasadnya jatuh. Saat itulah jin tahu bahwa mereka tidak mengetahui perkara gaib (QS Saba: 14).
- Penulis: Firmansyah
