Jakarta Makin Sering Disinggahi Artis Dunia: Ini Dampaknya
- account_circle Firmansyah
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kebaruan. Satu konser internasional bisa menggerakkan uang ratusan miliar rupiah di Jakarta. Konser Ye di Stadion Utama GBK pada 24 Oktober 2026, misalnya, diperkirakan memutar uang sekitar Rp450 miliar menurut Gubernur Pramono Anung. Namun, makin seringnya artis dunia singgah juga membawa beban bagi kota: lalu lintas, penipuan tiket, dan angka dampak yang sulit diuji.
Uang yang berputar di Jakarta
Pramono merinci porsinya. Penjualan tiket Ye bernilai Rp328 miliar, sisanya datang dari belanja pengunjung. Sementara itu, penyelenggara punya hitungan lain. Berdasarkan data Raw Vision Collective dan PHRI DKI, konser itu menarik sekitar 70.000 penonton, termasuk 25.000 dari 80 negara, dengan perputaran ekonomi sekitar Rp600 miliar.
Pekan itu juga ramai di sektor lain. Jakarta Running Festival menambah sekitar Rp175 miliar, sehingga total sepekan mencapai sekitar Rp625 miliar. Sebelumnya, konser The Weeknd dan festival Pestapora menghasilkan hampir Rp250 miliar.
Meski begitu, angka besar itu perlu dibaca hati-hati. Sekitar tiga perempat nilai versi Pemprov berasal dari tiket. Karena itu, belum jelas berapa yang benar-benar tinggal di Jakarta.
Hotel, UMKM, dan lapangan kerja ikut merasakan
Sektor penginapan paling cepat bereaksi. PHRI melaporkan okupansi hotel di sekitar lokasi konser Ye mendekati 100 persen. Hal serupa terjadi pada 2024. Sebuah properti RedDoorz dekat Ancol penuh dua hari berturut-turut saat Bruno Mars tampil di JIS.
Selain itu, rantai ekonominya melebar. Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda, menyebut dampaknya terasa pada transportasi, akomodasi, serta makanan dan minuman di daerah penyelenggara. Namun, tidak semua pelaku sepakat soal ukurannya. Sekretaris PHRI pada 2023 menyatakan hotel tidak memisahkan dampak konser dari segmen pasar lain.
Tantangan: macet, tiket, dan angka yang tidak seragam
Lalu lintas jadi persoalan paling kasatmata. Pada 6-7 Juni 2026, Dishub DKI memperkirakan lebih dari 37 ribu pengunjung kawasan GBK pada Sabtu dan sekitar 43 ribu pada Minggu, dengan 17 acara berlangsung bersamaan. Karena itu, Dishub menyiapkan rekayasa lalu lintas situasional. Untuk konser Ye, MRT Jakarta memperpanjang operasional hingga dini hari dengan interval 12 menit.
Penipuan tiket juga pernah memakan korban. Saat Coldplay tampil pada 2023, polisi menerima laporan dari 73 orang yang sudah membayar tetapi tidak menerima tiket.
Terakhir, angka dampak ekonomi sering berbeda jauh. Untuk Coldplay saja, Celios menghitung Rp130 miliar dari tiket, sedangkan Kemenparekraf menyebut perputaran Rp1,2 triliun, dan Menparekraf saat itu memproyeksikan Rp167 triliun untuk ekonomi nasional. Rentang selebar itu terjadi karena cakupan hitungnya tidak sama.
Jakarta menuju kota tujuan music tourism?
Pemprov melihat konser sebagai tolok ukur kota. Pramono menilai geliat ekonomi dari konser menunjukkan Jakarta semakin dikenal sebagai kota global. Di sisi lain, jadwal belum mereda. GBK diperkirakan tetap padat hingga akhir 2026, dengan rencana konser BTS menyusul.
Ke depan, tiga hal layak dipantau: kesiapan transportasi saat dua acara besar jatuh di akhir pekan yang sama, transparansi penjualan tiket, dan kajian independen yang mengukur dampak sebenarnya bagi warga.
- Penulis: Firmansyah
