Apa Itu Aksi Kamisan? Arti, Sejarah, dan Tuntutannya
- account_circle Firmansyah
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kebaruan. Aksi Kamisan adalah aksi diam yang digelar korban dan keluarga korban pelanggaran HAM setiap hari Kamis di seberang Istana Merdeka, Jakarta. Para peserta berpakaian serba hitam dan memegang payung hitam. Mereka menuntut negara menuntaskan kasus pelanggaran HAM berat masa lalu. Aksi ini berjalan sejak 18 Januari 2007 dan belum pernah berhenti.
Siapa penggagas Aksi Kamisan?
Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK) menggagas aksi ini. Banyak sumber menyebut dua nama paling depan: Maria Katarina Sumarsih dan Suciwati.
Sumarsih adalah ibu Bernardus Realino Norma Irawan, atau Wawan. Mahasiswa itu tewas akibat tembakan aparat dalam Tragedi Semanggi I pada 13 November 1998. Suciwati adalah istri Munir Said Thalib, pejuang HAM yang tewas dalam pembunuhan pada 7 September 2004.
Ide aksi ini lahir dalam pertemuan JSKK bersama KontraS. Inspirasinya datang dari Ibu-Ibu Plaza de Mayo di Argentina. Para ibu itu rutin berdemonstrasi untuk anak-anak mereka yang menjadi korban kediktatoran militer.
Kenapa payung dan pakaian hitam?
Sumarsih mengusulkan payung sebagai simbol. Suciwati lalu menambahkan warna hitam. Bagi Sumarsih, hitam melambangkan keteguhan dalam mencintai sesama manusia.
Peserta tidak berorasi panjang. Mereka berdiri diam, memajang foto korban, dan membentangkan spanduk. Mereka juga mengirim surat kepada Presiden setiap pekan. Aksi berlangsung sekitar pukul 16.00 hingga 17.00 WIB.
Dari Aksi Diam menjadi Aksi Kamisan
Nama pertama aksi ini adalah Aksi Diam. Masyarakat kemudian menyebutnya Aksi Payung Hitam. Nama Aksi Kamisan baru populer sejak 2016, menurut kajian sejarah aksi tersebut.
Awalnya jumlah peserta sangat sedikit. Sumarsih mengenang, aksi pada Desember 2007 dan Desember 2008 sempat hanya diikuti delapan orang. Ia bahkan pernah menyatakan aksi akan berhenti jika pesertanya tinggal tiga orang.
Kasus apa saja yang disuarakan?
Peserta membawa banyak kasus pelanggaran HAM berat. Daftarnya mencakup peristiwa 1965, Tragedi Trisakti, Semanggi I dan II, kerusuhan Mei 1998, penghilangan paksa aktivis, dan pembunuhan Munir.
Setiap pekan JSKK mengusung tema berbeda. Pada Aksi Kamisan ke-917, 23 Juli 2026, misalnya, mereka memperingati 27 tahun Tragedi Beutong Ateuh di Aceh. Kasus itu menyangkut pembantaian Tgk. Bantaqiah dan para santrinya pada 23 Juli 1999.
Sudah berapa lama dan menyebar ke mana?
Aksi Kamisan sudah menembus angka ke-570 pada Januari 2019, dan ke-917 pada Juli 2026. Pada 15 Januari 2026, aksi ini genap berusia 19 tahun.
Gerakan ini juga meluas ke daerah. Sumarsih mencatat 60 kota menggelar Aksi Kamisan pada 2023. Banyak anak muda yang datang ke Jakarta lalu membuat aksi serupa di kotanya.
Aksi Kamisan hari ini
Polda Metro Jaya mencatat JSKK menggelar Aksi Kamisan di Taman Pandang, kawasan Monas dekat Istana, pada Kamis (29/10/2026). Aksi itu salah satu dari 61 titik penyampaian pendapat di Jakarta hari itu.
Apakah ada hasilnya?
Sebagian pihak menilai aksi ini tidak menghasilkan apa-apa. Sumarsih membantah dengan menunjuk pada anak muda yang terus bergabung. Pada awal 2023, Presiden Joko Widodo mengakui 12 kasus pelanggaran HAM berat. Sumarsih menanggapi bahwa kasus-kasus itu harus berujung di Pengadilan HAM ad hoc.
- Penulis: Firmansyah
